Review Sepatu Gunung SNTA, Kelebihan, Model dan Harga

Sepatu Gunung SNTA merupakan salah satu sepatu anak bangsa hasil karya asli Indonesia. Sepatu ini memiliki kualitas yang tak kalah baik d...

Sepatu Gunung SNTA merupakan salah satu sepatu anak bangsa hasil karya asli Indonesia. Sepatu ini memiliki kualitas yang tak kalah baik dengan sepatu gunung lainnya. Sepatu SNTA memiliki bobot yang cukup ringan jika dibandingkan dengan sepatu gunung lain Jws, rei, Jws lokal, Rei eiger dll.
Review Sepatu Gunung SNTA, Kelebihan, Model dan Harga

Selain itu model sepatu snta memiliki banyak pilihan yang trendy dengan aneka pilihan warna yang keren. Bagi kamu pencinta aktvitas alam bebas seperti naik gunung maupun kegiatan outdoor lainnya, sepatu SNTA dapat menjadi pilihan terbaik buat kamu.

Satu hal yang menjadi keunggulan SNTA adalah harganya yang sangat terjangku. Tau sendiri kan kalau sepatu gunung itu mahal, namun tidak dengan sepatu snta, harga termahalnya pun masih sangat terjangkau. Harga sepatu SNTA ada di kisaran 300ribuan.

PERSAINGAN DAN PERANG MEREK COCA COLA VS PEPSI COLA, MANAGEMENT PEMASARAN

PERSAINGAN DAN PERANG MEREK COCA COLA VS PEPSI COLA, MANAGEMENT PEMASARAN Perang merek antara dua merek raksasa ini benar-benar bikin s...

PERSAINGAN DAN PERANG MEREK COCA COLA VS PEPSI COLA, MANAGEMENT PEMASARAN

Perang merek antara dua merek raksasa ini benar-benar bikin semua orang di dunia pemasaran menahan nafas, mengerinyitkan dahi dan lalu garuk-garuk kepala.

PERSAINGAN DAN PERANG MEREK COCA COLA VS PEPSI COLA, MANAGEMENT PEMASARAN
PERSAINGAN DAN PERANG MEREK COCA COLA VS PEPSI COLA, MANAGEMENT PEMASARAN

Sejak dua merek tersebut dilahirkan, masing-masing pada tahun 1886 dan 1903, hampir bisa dikatakan persaingan keduanya  sudah dimulai. 
Saling sikut dan perang iklan, baik iklan cetak dan video. Mereka berambisi bisa meraih dominasi pasar minuman ringan berkarbonasi. Bisa dimaklumi kalau terkadang masalah etika pun dikesampingkan.

Nah, kini sambil tidak mempermasalahkan dulu masalah etika, mari kita lebih menyorot kreativitas Coca Cola dan Pepsi dalam upayanya memenangkan simpati dan preferensi pelanggan.

Berikut ini adalah beberapa contoh iklan yang kontroversial bahkan cendrung tidak sehat, namun  mulai di ikuti oleh beberapa iklan TV Comercial di Indonesia.

Dua perusahaan cola kelas dunia Coca Cola dan Pepsi seakan tak pernah berhenti bertarung memperebutkan pasar di bisnis minuman ringan. Sejak dua merek tersebut ditahbiskan, masing-masing pada tahun 1886 dan 1903 antara keduanya sudah terjadi persaingan, saling sikut dan perang iklan, baik iklan cetak dan video. Mereka berambisi bisa meraih dominasi pasar minuman ringan berkarbonasi. Bisa dimaklumi kalau terkadang masalah etika sedikit terkesampingkan.
Salah satu iklan pepsi pada tahun era 1980-an ada yang berjudul "Earth: Sometime in the Future". Di gambarkan seolah-olah kondisi bumi di masa depan. Ada seorang guru yang membawa murid-muridnya berjalan-jalan kesebuah situs arkeologi. Sambil berjalan-jalan, murid-murid tersebut inum pepsi. Disana mereka menemukan berbaga benda yang merupakan artifakdari masa lalu. Benda pertama adalah bola bisbol. Yang kedua adalah gitar.
Nah, benda ketiga yang ditemukan tidak jelas bentuknya Karen asudah tertutup debu dan tanah. Sang guru lalu langsung membersihkan benda tersebut, dan akhirnya benda tersebut menampakan wujud aslinya. Murid-murid bertanya, apa benda itu? Dijawab oleh sang guru. "I have no idea." Anda tau benda apa itu? Ternyata itu adalah sebuah botol Coke! Iklan tersebut kemudian di akhiri dengan tulisan "Pepsi: The Choice of a New Generation."
Kurang ajar, bukan? Memang, dari dulu pepsi selalu membuat iklan-iklan komparasi yang "menghantam" Coke. Pepsi ingin mereposisi Coke sebagai kola yang kuno, Colanya orang tua. Tapi, Coke juga tidak tinggal diam. Coke juga pernah membuat iklan untuk merespon kampanye "Pepsi Challenge" pada tahun 1985.
PERSAINGAN DAN PERANG MEREK COCA COLA VS PEPSI COLA, MANAGEMENT PEMASARAN
Ketika itu pepsi pernah melakukan blid test. Orang diminta memilih, nama yang mereka sukai dari dunia minuman Kola tanpa merek yang mereka minum. Kedua minuman itu di ketahui masing-masing adalah Cola dan Pepsi. Hasilnya? Pepsi mengklaim bahwa kebanyakan orang lebih suka minum Pepsi ketimbang Coke.
Nah selain merespon dengan mengeluarkan "New Coke" yang menjadi salah satu marketing failure paling terkenal itu, Coke juga sempat mengeluarkan iklan. Isinya membandingkan "Pepsi Challenge" dengan kisah dua ekor simpanse yang sedang memutuskan, bola tenis mana yang bulu nya paling banyak! Kurang ajar, bukan? Memang, perang antara kedua kola ini sudah berlangsung turun-menurun dan tambah jadi menarik untuk di nikmati.
Saya sendiri juga pernah berkunjung di museum Coke di Atlanta, Amerika Serikat. Musium yangt namanya " The World of Coca-cola" ini menampilkan sejarah Coke lengkap dengan iklan-iklan yang terkenal dari masa ke masa. Iklan-iklan tersebut berasal dari seluruh dunia. Disini juga ada botol Coke dari berbagai Negara. Ditampilkan juga berbagai pengaruh Coke terhadap pop culture. Ada benda-benda seni yang terbuat dari botol dan kaleng Coke, yang salah satunya adalah karya artis terkenal Andy Warhol.
Ini menunjukan bahwa Coke menghargai keragaman budaya local dari masing-masing bangsa. Di China, nama Coca-cola bahkan sengaja di sesuaikan dan ditulis dwngan empat kharakter huruf mandarin yang di eja sebagai "ke kou ke le" yang bias diartikan sebagai "delicious happiness".
Dalam soal budaya, Coke memang dianggap lebih berpengaruh ketimbang pepsi. Tokoh Santa Clause yang kita kenal sekarang seorang kakek tua berkumis dan berjanggut panjang berwarna putih dengan pakaian berwarna merah putih disebut-sebut dipopulerkan pertama kali oleh Coke pada tahun 1930-an lewat iklan-iklannya.
Sementara itu, Pepsi selalu berupaya menampilkan citra sebagai Kola yang lebih muda dari pada Coke. Pepsi selalu memanfaatkan selebritis yang dekat pada anak muda pada masanya. Selebritis mulai dari Michael Jakson,Madonna,Britney Spears,David Beckham,Spice Grils,F4 sampai ke Jay Chow sempat menjadi brand endorses Pepsi.
Perang Kola ini terus berlanjut ke internet. Pepsi meluncurkan kembali program "Pepsi Stuff" pada tahun 2005 lalu, yang kemudian di respon Coke dengan kemudian meluncurkan program " Coke Rewards". Keduanya adalah loyalty program yang memberikan hadiah kepada pelanggan yang berhasil mengumpulkan sejumlah poin secara online.


KOMENTAR :

Berbagai kisah diatas menunjukan bahwa kedua merek sama-sama hebat. Mereka sama-sama ingin menjadi merek yang Horizontal. Kalau Coke menempuh pendekatan secara budaya local, Pepsi ingin memposisikan diri sebagai merek anak muda yang selain merupakan symbol masa depan, juga merupakan symbol horizontal.
Tidak ada yang mau jadi Legacy Brand. Tidak ada yang mau jadi Vertikal Brand. Inilah contoh produk komoditas, Produk yang bukan hanya Low-technology, namun malah no-technology dan kuno.

Demikian "PERSAINGAN DAN PERANG MEREK COCA COLA VS PEPSI COLA, MANAGEMENT PEMASARAN"

By : ERA FISSABILILLAH .S

Hukum Bisnis Kasus Penggunaan Formalin Pada Makanan

  BAB I PENDAHULUAN 1.1          Latar Belakang Pemberitaan di berbagai media massa cetak dan elektronik tentang produk pangan ...

 BAB I
PENDAHULUAN



1.1         Latar Belakang
Pemberitaan di berbagai media massa cetak dan elektronik tentang produk pangan yang mengandung formalin sudah fenomenal. Betapa tidak, bahan pengawet makanan yang membahayakan kesehatan ini penggunaannya sudah meluas di Tanah Air.
Karena itulah para konsumen dituntut waspada. Di lain pihak, para produsen diharapkan segera menarik produk bermasalah tersebut dari peredaran. Apalagi, Departemen Perdagangan sendiri secara proaktif terus mengawasi peredaran barang di pasar yang diduga mengandung formalin sebagai upaya perlindungan terhadap konsumen.

Yang perlu digarisbawahi, penggunaan formalin untuk bahan pengawet makanan adalah melanggar peraturan pemerintah. Karena, dalam jangka panjang pengonsumsinya dapat menderita penyakit kanker dan gangguan ginjal. Kasus penggunaan formalin, boraks dan sejenisnya pada makanan mencerminkan kelemahan koordinasi dari tiga instansi bertanggung jawab menangani peredaran bahan makanan dan minuman.

Ketiga instansi tersebut adalah Departemen Perindustrian (Deperin) yang bertugas membina industri, Departemen Perdagangan (Depdag) menangani tata niaga, dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) melakukan pengawasan bahkan penyelidikan langsung sampai ke batas-batas tertentu.Ketiga instansi tersebut diduga kuat tidak berfungsi optimal dalam menindak produsen pengguna formalin, boraks atau sejenisnya dalam makanan. Patut dipertanyakan, sejauh mana Deperin telah mengontrol ribuan industri makanan-minuman yang tersebar di Indonesia? Apakah pihak Deperin telah mengalokasikan anggaran yang memadai untuk melakukan pembinaan berkelanjutan?

Perlindungan konsumen terhadap produk pangan yang bermasalah, paling efektif dilakukan pemerintah. Idealnya, sistem penyaluran atau distribusi produk pangan sebelum masuk dan ketika beredar di pasaran tak boleh luput dari pengawasan pemerintah. Di negara maju, pemerintahlah yang paling aktif melaksanakan fungsi kontrolnya. Di Indonesia kontrol pemerintah atas tata niaga produk pangan dan bahan pengawet masih lemah. Padahal tata niaga tersebut harus dilakukan secara ketat.

Ironisnya, peraturan tentang penggunaan formalin dan bahan kimia tertentu (BKT) dalam produk pangan seperti tercantum dalam UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan serta UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, kelihatannya telah terdistorsi. Deperin dan Depdag sebenarnya sudah membuat regulasi tentang tata niaga BKT, seperti formalin dan rhodamin B. Bahan-bahan itu seharusnya hanya dijual kepada pengguna akhir (end user), tetapi ternyata masih terjadi penyimpangan pada tahap distribusi. Sebab itu, pemerintah hendaknya memperketat distribusi peredaran formalin dan sejenisnya, di samping mencari alternatif bahan pengawet lain yang murah tetapi aman untuk produk pangan. Mutlak, perlu pengawasan ketat terhadap bahan pengawet berbahaya, sebab sampai sekarang beberapa jenis bahan berbahaya dipakai untuk produk makanan atau minuman agar lebih awet atau berwarna lebih menarik.

1.2         Rumusan Masalah
1.    Tanggapan masyarakat mengenai formalin yang digunakan dalam makanan
2.    Pelanggaran hukum terkait dengan kasus tersebut
3.    Kerugian untuk masyarakat yang ditimbulkan dengan adanya kandungan formalin tersebut di dalam makanan yang dikonsumsi masyarakat.
4.    Upaya apa yang dilakukan pemerintah dalam menangani kasus ini

1.3         Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan membantu pembaca agar dapat mengetahui sejauh mana kandungan formalin menyebar di dalam makanan yang dijual di pasar pasar, dan apakah formalin yang digunakan produsen dalam produksi nya melanggar hukum atau tidak, dan bagaimana upaya pemerintah dalam menanggulangi masalah hal tersebut di sekitar masyarakat.


BAB II
PEMBAHASAN

  
2.1     Identifikasi Masalah
Gaya hidup masyarakat yang berubah dan meningkat, khususnya dalam mengonsumsi berbagai variasi produk makanan, menjadi pemicu bagi tindakan spekulasi para pelaku ekonomi produksi makanan. Upaya mendapatkan untung besar dengan biaya minimal dilakukan denganberbagai cara, terutama dengan menekan biaya produksi dan membuat produk tahan lama. Contohnya penggunaan bahan pengawet seperti formalin. Pemakaian formalin pada bahan makanan, dan pengurangan komponen bahan lainnya, termasuk penggunaan zat pewarna pun bahkan dilakukan dengan sengaja
Produk pangan yang mengandung formalin sudah fenomenal di Tanah Air.. Betapa tidak, bahan pengawet makanan yang membahayakan kesehatan ini penggunaannya sudah meluas.
Karena itulah para konsumen dituntut waspada. Di lain pihak, para produsen diharapkan segera menarik produk bermasalah tersebut dari peredaran. Apalagi, Departemen Perdagangan sendiri secara proaktif terus mengawasi peredaran barang di pasar yang diduga mengandung formalin sebagai upaya perlindungan terhadap konsumen.
Penggunaan formalin untuk bahan pengawet makanan adalah melanggar peraturan pemerintah. Karena, dalam jangka panjang pengonsumsinya dapat menderita penyakit kanker dan gangguan ginjal. Kasus penggunaan formalin, boraks dan sejenisnya pada makanan mencerminkan kelemahan koordinasi dari tiga instansi bertanggung jawab menangani peredaran bahan makanan dan minuman. Ketiga instansi tersebut adalah Departemen Perindustrian (Deperin) yang bertugas membina industri, Departemen Perdagangan (Depdag) menangani tata niaga, dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) melakukan pengawasan bahkan penyelidikan langsung sampai ke batas-batas tertentu.Ketiga instansi tersebut diduga kuat tidak berfungsi optimal dalam menindak produsen pengguna formalin, boraks atau sejenisnya dalam makanan.
Perlindungan konsumen terhadap produk pangan yang bermasalah, paling efektif dilakukan pemerintah. Idealnya, sistem penyaluran atau distribusi produk pangan sebelum masuk dan ketika beredar di pasaran tak boleh luput dari pengawasan pemerintah. Di negara maju, pemerintahlah yang paling aktif melaksanakan fungsi kontrolnya. Di Indonesia kontrol pemerintah atas tata niaga produk pangan dan bahan pengawet masih lemah. Padahal tata niaga tersebut harus dilakukan secara ketat.
Patut dipertanyakan ?
1.      Sejauh mana instansi-instansi terkait mengontrol ribuan industri makanan-minuman yang tersebar di Indonesia?

Peraturan tentang penggunaan formalin dan bahan kimia tertentu (BKT) dalam produk pangan seperti tercantum dalam UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan serta UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, kelihatannya telah terdistorsi (ketidaksempurnaan pasar adalah yang membuat kondisi ekonomi ketidak efisien sehingga mengganggu agen ekonomi dalam memaksimalkan kesejahteraan sosial dalam rangka memaksimalkan kesejahteraan mereka sendiri). Deperin dan Depdag sebenarnya sudah membuat regulasi tentang tata niaga BKT, seperti formalin dan rhodamin B. Bahan-bahan itu seharusnya hanya dijual kepada pengguna akhir (end user), tetapi ternyata masih terjadi penyimpangan pada tahap distribusi. Sebab itu, pemerintah hendaknya memperketat distribusi peredaran formalin dan sejenisnya, di samping mencari alternatif bahan pengawet lain yang murah tetapi aman untuk produk pangan. Mutlak, perlu pengawasan ketat terhadap bahan pengawet berbahaya, sebab sampai sekarang beberapa jenis bahan berbahaya dipakai untuk produk makanan atau minuman agar lebih awet atau berwarna lebih menarik.
Ø Ada dua instrumen perlindungan yang seharusnya diperhatikan pemerintah :
·      Perlindungan pra-pasar, yaitu pemeriksaan produk sebelum masuk pasar. Untuk bahan pangan maupun kemasannya, semua produk itu mestinya melalui proses registrasi. Juga harus ada proses standarisasi.
·      Kontrol pasca-pasar. Setelah barang itu masuk ke pasar, seharusnya mekanisme kontrol tetap berjalan. Jika suatu barang yang beredar tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan maka barang itu harus ditarik dari pasar. Kedua kontrol itu, pra dan pasca-pasar sejauh ini memang tidak berjalan baik di Indonesia. Padahal mekanisme kontrol yang bagus dari pemerintah akan menjamin bahwa barang yang beredar di pasaran steril dari bahan-bahan berbahaya bagi kesehatan masyarakat.
 
2.      Mengapa bahan pengawet yang berbahaya masih diperbolehkan beredar bebas di pasaran, yang kemudian banyak disalahgunakan?

Pada dasarnya Penggunaan formalin tidak dilarang,  asalkan untuk tujuan yang tidak merugikan individu dan masyarakat. Formalin dan   boraks itu sendiri sebenarnya merupakan bahan pengawet mayat dan tekstil, juga banyak digunakan sebagai desinfektan untuk pembersih lantai,  gudang, pakaian, dan sebagai getmisida dan fungisida pada tanaman dan sayuran. Formalin pun dapat digunakan sebagai pembasmi serangga dalam industri tahu. Selain itu formalin juga biasa digunakan untuk bahan kecantikan, Namun kenyataannya, terjadi penyalahgunaan bahan formalin dalam produk-produk kecantikan yang sebenarnya sangat berbahaya. Para produsen menggunakan bahan pengawet formalin  demi keuntungan dan meminimalkan biaya, sementara masalah kesehatannya bukan menjadi tanggung jawab mereka.  Formalin juga kerap muncul dalam fungsinya sebagai pewarna untuk menambah daya tarik penampilan makanan.
Para pelaku usaha mestinya tidak memroduksi dan mengedarkan produk pangan yang menggunakan bahanpengawet tersebut. Maraknya kasus produk pangan dengan bahan pengawet berbahaya  juga menunjukkan adanya kegagalan sosialisasi dan pengabaian masyarakat tentang pentingnya makanan sehat. Karena itu, penanggulangan kasus ini hendaknya betul-betul bertujuan demi memberantas tuntas penyalahgunaan bahan pengawet dari bahan kimia, bukan karena motif lain demi keuntungan semata.
Berdasarkan UU No 7 tahun 1996 tentang Pangan dan UU No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen serta UU No 23/1992 tentang Kesehatan, produsen yang terlibat dapat dipidana penjara paling lama lima tahun atau denda maksimal Rp 600 juta.
Guna menghindari efek buruk kesehatan, masyarakat diimbau untuk tidak membeli atau mengonsumsi berbagai produk pangan berformalin, boraks dan sejenisnya. BPOM telah mengumumkan hasil penelitian terhadap 700 sampel produk pangan yang diambil dari Pulau Jawa, Sulsel, dan Lampung. Sebanyak 56% di antaranya mengandung formalin. Bahkan, 70% mie basah mengandung formalin.
Hasil riset dari Balai Besar POM DKI Jakarta menyebutkan, delapan merek mie dan tahu yang dipasarkan di Ibu Kota mengandung formalin. Tidak mudah membedakan produk pangan yang mengandung formalin dengan yang tidak. Tetapi, produk makanan dengan kadar formalin tinggi akan terlihat sangat berminyak dan aromanya menyengat. Formalin dan boraks sebenarnya merupakan bahan pengawet mayat dan tekstil. Para pelaku usaha mestinya tidak memroduksi dan mengedarkan produk pangan yang menggunakan bahan pengawet tersebut. Agar kasus ini dapat ditanggulangi secara efektif, perlu ada nota kesepahaman bersama antara BPOM dengan pemerintah daerah setempat dan jajaran penegak hukum, termasuk kepolisian. Semua pihak, terutama para produsen dan oknum aparat pemerintah yang terlibat, perlu ditindak tegas sebagai therapi kejut agar tidak ada lagi produsen makanan yang berani menyalahgunakan bahan pengawet yang berbahaya.

2.2     Identifikasi Produk
A.  Mi basah
Penggunaan formalin pada mi basah akan menyebabkan mi tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius). Baunya agak menyengat, bau formalin. Tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal. Penggunaan boraks pada pembuatan mi akan menghasilkan tekstur yang lebih kenyal.
B.   Tahu
Tahu merupakan makanan yang banyak digemari masyarakat, karena rasa dan kandungan gizinya yang tinggi. Namun dibalik kelezatannya kita perlu waspada karena bisa saja tahu tersebut mengandung bahan berbahaya. Perhatikan secara cermat apabila menemukan tahu yang tidak mudah hancur atau lebih keras dan kenyal dari tahu biasa, kemungkinan besar tahu tersebut mengandung bahan berbahaya, bisa formalin maupun boraks. Selain itu, tahu yang diberi formalin tidak akan rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius). Tahu juga akan terlampau keras, namun tidak padat. Bau agak menyengat, bau formalin
C.   Bakso
Bakso tidak rusak sampai lima hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius). Teksturnya juga sangat kenyal
D.  Ikan segar
Ikan segar yang diberi formalin tekstur tubuhnya akan menjadi kaku dan sulit dipotong. Ia tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius). Warna insang merah tua dan tidak cemerlang, bukan merah segar dan warna daging ikan putih bersih.
E.   Ikan asin
Ikan asin yang mengandung formalin akan terasa kaku dan keras, bagian luar kering tetapi bagian dalam agak basah karena daging bagian dalam masih mengandung air. Karena masih mengandung air, ikan akan menjadi lebih berat daripada ikan asin yang tidak mengandung formalin. Tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius). Tubuh ikan bersih, cerah.
           
2.3     Identifikasi Kerugian bagi Konsumen dan Keuntungan bagi Produsen
·      Kerugian bagi Konsumen
Formalin merupakan cairan tidak berwarna yang digunakan sebagai desinfektan, pembasmi serangga, dan pengawet yang digunakan dalam industri tekstil dan kayu. Formalin memiliki bau yang sangat menyengat, dan mudah larut dalam air maupun alkohol.
Beberapa pengaruh formalin terhadap kesehatan adalah sebagai berikut.
1.    Jika terhirup akan menyebabkan rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan , sukar bernafas, nafas pendek, sakit kepala, dan dapat menyebabkan kanker paru-paru.
2.    Jika terkena kulit akan menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal, dan kulit terbakar.
3.    Jika terkena mata akan menyebabkan mata memerah, gatal, berair, kerusakan mata, pandangan kabur, bahkan kebutaan.
4.    Jika tertelan akan menyebabkan mual, muntah-muntah, perut terasa perih, diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit membiru, hilangnya pandangan, kejang, bahkan koma dan kematian.
Formalin merupakan bahan tambahan yang sangat berbahaya bagi manusia karena merupakan racun. Bila terkonsumsi dalam konsentrasi tinggi racunnya akan mempengaruhi kerja syaraf. Secara awam kita tidak dapat mengetahui seberapa besar kadar konsentrat formalin yang digunakan dalam suatu makanan. Formalin adalah nama dagang formaldehida yang dilarutkan dalam air dengan kadar 36 – 40 %. Formalin biasa juga mengandung alkohol 10 – 15 % yang berfungsi sebagai stabilator supaya formaldehidnya tidak mengalami polimerisasi.
Formaldehida pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia, dengan gejala : sakit perut akut disertai muntah-muntah, mencret berdarah, depresi susunan syaraf dan gangguan peredaran darah. Injeksi formalin (suntikan) dengan dosis 100 gram dapat menyebabkan kematian dalam waktu 3 jam. Tahu merupakan produk pangan yang sering direndam formalin. Tahu yang tidak direndam formalin hanya bertahan 1 – 2 hari saja kemudian berlendir. Sedangkan yang direndam formalin akan bertahan 4 – 5 hari bahkan bisa sampai 1 bulan dalam kadar tertentu.
·      Keuntungan bagi Produsen
Pada umumnya, alasan para produsen menggunakan formalin sebagai bahan pengawet makanan adalah karena bahan ini mudah  digunakan dan mudah didapat,  harganya relatif murah dibanding bahan pengawet lain yang tidak berpengaruh buruk pada kesehatan. Selain itu, formalin merupakan senyawa yang bisa memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus.
Kebutuhan setiap orang tidak ada batasnya. Setelah kebutuhan yang satu terpenuhi, akan muncul kebutuhan lainnya. Oleh karena itu, tindakan yang dilakukan oleh seseorang berpedoman pada prinsip ekonomi yaitu dengan pengorbanan tertentu akan memperoleh hasil maksimal. Jadi, tindakan ekonomi harus didorong oleh motif ekonomi dan didasari oleh prinsip ekonomi.
Motif ekonomi adalah alasan seseorang untuk melakukan sesuatu atau dorongan dari dalam diri manusia untuk berbuat atau bertindak secara ekonomis untuk memperoleh keuntungan. Keadaan perekonomian Indonesia yang semakin sulit, harga bahan-bahan yang semakin meningkat memacu penjual untuk lebih cerdik dalam memproduksi atau menjual makanan dengan harga tetap terjangkau.
Ø Faktor-faktor yang menyebabkan produsen menggunakan formalin dalam produk makanan, antara lain adalah sebagai berikut.
a. Perilaku Konsumen
Sebagian konsumen lebih senang memilih produk yang awet dan harga yang murah. Konsumen umumnya bersikap tidak ambil peduli, yang penting harganya murah. Selain itu, konsumen biasanya sulit membedakan produk yang diawetkan dengan formalin yang boleh jadi membuat mereka mengambil jalan mudah memilih produk apa saja. Sehingga produsen dapat dengan mudah memperjualbelikan makanan dengan kandungan formalin yang memiliki keuntungan yang besar kepada konsumen.
b. Formalin lebih tahan lama.
Formalin bisa mengawetkan bahan makanan tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama Banyak para pedagang dan pengusaha yang mengatakan bahwa produk makanan yang tidak diberi bahan pengawet, formalin, makanan seperti tahu atau mi basah seringkali tidak bisa tahan dalam lebih dari 12 jam. Bagi sebagian produsen maupun pedagang, alasan penggunaan zat ini adalah untuk mengawetkan produk mereka, terutama untuk jenis makanan yang mudah rusak atau busuk. Daya tahan produk hingga berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan tentu saja sangat menguntungkan penjual. Apalagi pada kondisi pasar yang tengah melesu.
c. Formalin dinilai cukup murah dan mudah didapat.
Meski disadari berbahaya, penggunaan formalin dalam makanan sangat sulit dihindari. Para pedagang dan pengusaha makanan menggunakan formalin untuk motif ekonomi. Penggunaan bahan pengawet makanan ini dapat menolong untuk menekan biaya produksi sehingga menambah keuntungan produsen. Selain itu bahan ini juga tergolong mudah untuk didapat, karena bahan ini dijual bebas di pasaran.
d. Formalin dinilai lebih efektif untuk menghambat proses pembusukan.
Formalin adalah suatu zat kimia. Oleh karena itu, zat ini sangat efektif untuk mencegah terjadinya pembusukan pada produk makanan.

2.4         Upaya Pemerintah

Walaupun penyebaran boraks dan formalin di Indonesia sudah luas sekali dan sudah menjadi umum, pemerintah masih tidak mengambil langkah yang tegas dalam menangani hal ini. Buktinya bisa didapat, bahwa ternyata penggunaan formalin dan boraks sebagai bahan pengawet makanan masih merajalela.
Sebenarnya, pemerintah sudah berusaha mengambil tindakan, yaitu dengan melalui Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Beberapa langkah sudah diambil oleh BPOM, seperti : melarang panganan permen merek white rabbit creamy, kiamboy, classic cream, black currant, dan manisan plum; mengeluarkan permenkes no. 722/1998 tentang bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam pangan; dan melakukan sosialisasi penggunaan bahan tambahan makanan yang diizinkan dalam proses produksi makanan & minuman sesuai UU No. 23/1992 untuk aspek keamanan pangan, & UU No. 71/1996. Tetapi upaya yang dilakukan Badan POM tersebut, hanya dianggap gertakan oleh para pedagang, karena Badan POM hanya mengeluarkan undang-undang dan aturan. Tetapi Badan POM tidak melakukan tindakan tegas seperti memberi sanksi tegas bagi pedagang yang masih menggunakan boraks dan formalin, bahkan badan ini masih kurang gencar dalam melakukan razia.


MATERI LENGKAP FLEXIBLE BUDGET

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Terjadinya persaingan yang semakin ketat dalam dunia usaha terutama bagi perusahaan-perusahaa...

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Terjadinya persaingan yang semakin ketat dalam dunia usaha terutama bagi perusahaan-perusahaan yang menghasilkan dan mendistribusikan produk yang sejenis,  maka perusahaan harus mengatur dan mengelola sumber keuangan yang dimilikinya secara cermat agar perusahaan dapat mempertahankan eksistensi dan kontinuitas usahanya. Salah satu bentuknya adalah perencanaan dan pengendalian.
Proses perencanaan dilakukan dengan mengevaluasi prestasi masa lalu dan menilai kondisi masa yang datang. Prestasi masa lalu dievaluasi untuk mengetahui apakah laba yang ditetapkan telah dicapai, serta faktor yang mempengaruhinya. Sedangkan penilaian kondisi di masa yang akan datang dilakukan untuk mengetahui perkembangan lingkungan ekstern dan intern yang akan mempengaruhi laba perusahaan. Perencanaan diperlukan oleh perusahaan sebagai alat pengkoordinasian kegiatan-kegiatan dari seluruh bagian-bagian yang ada dalam perusahaan. Dengan adanya suatu perencanaan, maka kegiatan-kegiatan seluruh bagian dalam perusahaan akan saling menunjang dan bahu-membahu secara bersama menuju ke sasaran yang telah ditetapkan. Hasil yang diperoleh pada proses perencanaan akan menjadi dasar untuk melakukan fungsi pengendalian. Proses pengendalian dapat berfokus pada peristiwa-peristiwa sebelum, selama, atau setelah sebuah proses.
Ray Garrison dan Noreen dalam buku Akuntansi Manajerial, terjemahan A. Totok Budisantoso (2000:111) bahwa :
Pengendalian sebagai perbandingan berlanjut atas pelaksanaan sebenarnya dengan program, atau anggaran yang disiapkan melalui fungsi perencanaan. Salah satu metode pengendalian yang paling umum digunakan, adalah proses penentuan target-target untuk berbagai pengeluaran organisasi dan pengawasan hasil kemudian membandingkannya dengan anggaran membuat perubahan yang diperlukan.
Pengendalian yang efektif membutuhkan perangkat atau wadah informasi guna mengkomunikasikan hasil perencanaan pada seluruh tingkatan manajemen. Perangkat/wadah tersebut dinamakan anggaran (budget). Anggaran menggambarkan rencana untuk masa yang akan datang yang akan diekspresikan dalam istilah-istilah keuangan formal.
Menurut Darsono Prawironegoro dan Ari Purwanti dalam buku Akuntansi Manajemen (2009:133) bahwa :
Fleksibilitasnya anggaran terbagi atas dua yaitu anggaran statis yaitu suatu anggaran yang disusun hanya untuk satu tingkat aktivitas saja. Kemudian anggaran fleksibel yang merupakan anggaran yang disusun berdasarkan beberapa tingkat aktivitas. 
Anggaran Statis mempunyai kelemahan dalam penerapannya di dalam perusahaan karena disusun hanya untuk satu tingkat aktivitas saja, sehingga kurang efektif jika dijadikan sebagai alat pengendalian. Hal ini menyebabkan terjadinya penyimpangan antara anggaran dan realitasnya. Oleh karena itu anggaran fleksibel dianggap lebih cocok untuk dijadikan sebagai prinsip pengendalian karena disusun berdasarkan beberapa tingkat aktivitas, sehingga pengendalian menjadi lebih efektif dan efisien.
Selanjutnya Darsono Prawironegoro dan Ari Purwanti (2009:134) mengemukakan bahwa:  Anggaran fleksibel dapat menjadi salah satu alternatif dalam memberikan solusi pada pengukuran kinerja yang memberikan akibat lanjut bagi kemampuan mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi pada tingkat aktivitas dalam periode anggaran dan dapat digunakan untuk menganalisis penyimpangan biaya dengan lebih baik. Dengan demikian anggaran fleksibel sangat bermanfaat dalam pengendalian biaya produksi. 
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Anggaran Fleksibel (Flexible Budget)?
2.      Bagaimana Konsep anggaran Fleksibel (Flexible Budget)?
3.      Apa yang dimaksud dengan Variance serta jenis-jenis Variance ?
4.      Bagaimana cara penyusunan  Laporan  kinerja dengan pendekatan Anggaran Fleksible (Flexible Budget)? 
C.    Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunana makalah ini adalah diharapka kami mampu  :
1.      Mengetahui dan menjelaskan konsep anggaran fleksibel (Flexible Budget),
2.      Menjelaskan keunggulan anggaran fleksibel (Flexible Budget) dibanding anggaran statis (Statis planning budget)
3.      Menyusun anggaran fleksibel (Fleksible Budget) 
BAB II
PEMBAHASAN
A.     FLEXIBLE BUDGET
Flexible budget adalah laporan yang menunjukkan estimasi besarnya revenue dan cost yang seharusnya, pada tingkat actual aktivitas tertentu selama  periode.

1.      Karakteristik Flexible Budget
Flexible budget memperhitungkan perubahan-perubahan dalam aktivitas yang mempengaruhi cost. Flexible budget  memeberikan estimasi nilai revenue dan cost yang seharusnya terjadi untuk setiap tingkat aktivitas dalam periode tertentu. Pada saat flexible budget digunakan dalam evaluasi kinerja, actual cost dibandingkan dengan cost  yang seharusnya terjadi pada tingkat aktivitas selama periode tertentu bukan dengan static planning budget. Ini merupakan perbedaan yang sangat penting. Jika penyesuaian untuk tingkat aktivitas tidak dibuat, maka sangat sulit untuk menginterperetasikan perbedaan antara actual cost dengan budgeted.
Flexibel budget mempunyai beberapa keunggulan, Ahmad (2007:179) menjelaskan kegunaan utama anggaran fleksibel yaitu :
§  Untuk memudahkan persiapan Flexible budget bagi Pusat Pertanggung jawaban untuk dicantumkan dalam Rencana LabaTaktis.
§  Menyajikan sasaran yang jelas dari pengeluaran bagi para manajer di Pusat Pertanggungjawaban selama periode yang tercakup dalam kerangka rencana laba.
§  Menyuguhkan jumlah-jumlah anggaran pengeluaran yang disesuaikan dengan aktivitas aktual untuk perbandingan-perbandingan (terhadap pengeluaran aktual) dalam laporaran kinerja bulanan.
Supriyono (2009:340) juga menjelaskan beberapa keunggulan Flexible Budget. Keunggulannya terletak pada dua hal, yaitu :
§  Flexible Budget dapat dipakai sebagai alat perencanaaan laba dengan lebih baik yaitu melalui analisa hubungan biaya-volume-laba,
§  Flexible Budget dapat digunakan untuk menganalisis penyimpangan biaya dengan lebih baik. Flexible budget dapat diterapkan dalam semua fungsi perusahaan (Produksi, Penjualan dan Administratif) dan lebih sering digunakan dalam Pusat tanggungjawab pada fungsi produksi, karena :
a.       Operasional cenderung berulang
b.      Terdapat pengeluaran heterogen yang sangat besar
c.       Keluaran atau aktivitas dapat diukur secara realisitis Penyusunan flekxible budget ditandai oleh kesadaraan manajemen. 
2.      Kelemahan Static Planning Budget
Static Planning Budget adalah anggaran yang disiapkan hanya untuk suatu level aktivitas tertentu yang direncanakan. Kelemahan menggunakan static budget adalah munculnya kesulitan dalam menilai kinerja aktivitas apabila aktivitas aktual berbeda dengan aktivitas yang direncanakan. Untuk dapat menilai aktivitas aktual dengan dengan lebih baik, anggaran harus dibuat fleksibel.
Flexibel budget memberikan rencana detail untuk mengontrol biaya, terutama overhead untuk beberapa level aktivitas dalam range yang relevan bagi perusahaan, flexibel budget dapat memberikan dasar yang lebih baik dalam membandingkan actual cost dan expected cost pada jumlah aktivitas aktual .
Untuk mengilustrasikan perbedaan antara static planning budget dan flexible budget, kita akan menggunakan kasus Rick’s Hairstyling, salon penata rambut kelas atas di Beverly Hills yang dimiliki dan dikelola oleh Rick Manzi. Salon ini memiliki pelanggan-pelanggan setia-banyak diantara pelanggannya bekerja di industry perfileman. Akhir-akhir ini Rick berusaha untuk mengendalikan revenue dan cost sebaik-baiknya, dan atas desakan penasihat bisnisnya, Victorio Kho, dia mulai menyusun anggaran bulanan. Victoria Kho adalah seorang akuntan yang berpraktik secara independen, yang secara khusus menangani usaha kecil dibidang jasa seperti Rick’s Hairstyling.
            Pada akhir Februari, Rick dengan saksama menyusun anggaran bulan Maret seperti yang tampak pada TAMPILAN 9-1. Rick percaya bahwa jumlah anggaran yang dilayani dalam bulan tersebut merupakan cara terbaik untuk mengukur keseluruhan tingkat aktivitas disalonnya. Kunjungan pelanggan tersebut ia sebut sebagai client-visit. Pelanggan yang datang ke salon dan ditata rambutnya dihitung sebagai kunjungan satu orang klien,
            Rick mengidentifikasikan delapan kategori costs utama, yaitu wage and salaries, hairstyling supplies, client gratuities, electricity, rent, liability insurance, employee health insurance dan miscellaneous. Client gratuities terdiri atas bunga, permen, dan sampanye dalam gelas yang diberikan kepada pelanggan yang ada disalon.

Rick's Hairstyling
Planning Budget
For the Month Ended March 31


Budgeted client-visit (q)
        1000
Revenue ($180,00q)
 $       180,000
Expenses:


Wage and salaries ($65.000 + $ 37,00q)
 $       102,000


Hairstyling supplies ($1.50q)
 $           1,500


Client gratuities ($4,10q)
 $           4,100


Electricity ($1.500 +  $0,10q)
 $           1,600


Rent ($28.500)
 $         28,500


Liability  insurance ($ 2.800)
 $           2,800


Employee health insurance($21.300)
 $         21,300


Miscellaneous ($1.200  + $0,20q)
 $           1,400



Total expenses
 $       163,200
Net Operating Income

 $         16,800

Gambar 9-1 (Planning Budget)

            Rick bekerja sama dengan Victoria, telah mengestimasi rumus cost untuk setiap cost. Sebagai contoh, mereka menentukan bahwa rumus cost untuk electricity adalah $1.500 + 0,10q, di mana q adalah total client-visit (kunjungan klien). Dengan kata lain, electricity merupakan mixed cost dengan $1.500 elemen tetap dan $0,10 elemen variable per kunjungan klien. Ketika tingkat aktivitas dianggarkan sebesar 1.000 kunjungan klien, sangat mudah untuk menghitung jumlah yang dianggarkan untuk setiap pos. Sebagai contoh , menggunakan rumus cost, budgeted cost untuk electricity adalah $1.600 (=$1.5000 + $0,10 x 1.000).
            Pada akhir Maret , Rick mendapati bahwa laba aktualnya adalah $21.230 seperti yang ditunjukkan pada Tampilan 9-2. Sangat penting untuk menyadari bahwa hasil actual tidak ditentukan dengan  memasukkan jumlah actual kunjungan klien kedalam  rumus revenue dan cost. Rumus ini secara sederhana mengestimasi jumlah revenue dan cost yang seharusnya terjadi untuk tingkat aktivitas tertentu. Hal yang actual terjadi biasanya berbeda dengan yang telah direncanakan.
Rick's Hairstyling
Income Statement
For the Month Ended March 31

Actual client-visit
             1100
Revenue
 $             194,200
Expenses:


Wage and salaries
 $             106,900


Hairstyling supplies
 $                 1,620


client gratuities
 $                 6,870


Electricity
 $                 1,550


Rent
 $               28,500


Liability Insurance
 $                 2,800


Employee Health  Insurance
 $               22,600


Miscellaneous
 $                 2,130



Total Expenses
 $             172,970
Net Operating Income
 $               21,230





Gambar 9-2 (Hasil Aktual Laporan Laba Rugi)

            Kembali mengacu pada Tampilan 9-1, Net operating income yang dianggarkan adalah $16.800 sehingga  actual profit lebih tinggi dari yang direncanakan di awal bulan. Hal ini tentu saja merupakan berita bagus, tetapi Rick ingin mengetahui lebih lanjut. Bisnis naik sampai dengan 10% -salon  mendapatkan 1.100 kunjungan klien, bukan 1.000 kunjungan klien seperti yang direncanakan. Apakah hal tersebut dapat menjelaskan Net Operating Income? Jawabannya adalah tidak. Kenaikan Net operating income sebesar 10% ini berniilai $18.480 (=1.1 x $16.800), bukan $21.230 yang actual dihasilkan selama bulan tersebut. Apa yang menyebabkan hasil yang memuaskan ini? price yang lebih tinggi? Cost yang lebih rendah? Sesuatu yang lain? Apapun penyebabnya, Rick ingin mengetahu jawabannya dan berharap dapat mengulangi kinerja  yang sama tersebut untuk bulan depan.
            Untuk menganalisis kejadian di bulan Maret, Rick menyusun laporan yang membandingkan cost actual dengan yang direncanakan seperti pada tampilan 9-3. Perhatikan bahwa sebagian besar varian dalam laporan tersebut ditandai dengan unfavorable (u), bukan favorable (f), meskipun Net operating income lebih tinggi dari yang diharapkan. Sebagai contoh, wage and salaries menunjukkan varian yang tidak menguntungkan (unfavorable) sebesar $4.900 karena anggaran telah menetapkan jumlah wage and salaries sebesar $102.000,  sedangkan actual wage and salaries expenses adalah  $106.900. masalahnya adalah, seperti yang disadari Rick, bahwa laporan tersebut membandingkan revenue dan cost pada tingkat satu aktivitas (1.000 kujungan klien) terhadap revenue dan cost  pada tingkat aktivitas yang berbeda (1.100 kunjungan klien). Hali ini seperti membandingkan apel dengan jeruk. Oleh karena Rick mempunyai 100 kunjungan lebih banyak dari yang diharapkan, maka beberapa cost akan lebih tinggi dari yang dianggarkan. Dari sudut pandang Rick, kenaikan dalam aktivitas ini adalah bagus dan harus dihitung sebagai varian yang menguntungkan, tetapi kenaikan dalam aktivitas ini juga mempunyai pengaruh negative pada sebagian besar cost pada laporan. Rick mengetahui bahwa sesuatu harus dilakukan untuk membuat laporan tersebut lebih berarti, tetapi dia tidak yakin harus melakukan apa. Rick kemudian membuat janji untuk bertemu dengan Victoria Khou guna mendiskusikan langkah selanjutnya.
Victoria           :Bagaimana proses penganggaran Anda?
Rick                 :Cukup baik, saya tidak mempunyai masalah dalam menyusun anggaran bulan Maret dengan yang dianggarkan, tetapi laporan tersebut tidak benar-benar memberikan hasil yang ingin saya ketahaui.
Victoria           :Apakah karena tingkat aktivitas actual tidak memenuhi aktivitas yang Anda anggarkan?
Rick                 :Benar, saya tahu bahwa itu seharusnya tidak mempengaruhi cost tetap saya, tetapi saya memiliki lebih banyak kunjungan klien dibandingkan dengan yang saya harapkan sehingga hal tersebut memengaruhi cost variable.
Victoria           :Jadi Anda ingin tahu apakah cost actual yang lebih tinggi ini disebabkan oeh tingkat aktivitas actual yang juga lebih tinggi
Rick                 : Tepat.
Victoria           : Jika Anda memberikan laporan dan data-datanya kepada saya, maka saya dapat mengerjakannya nanti, dan besok saya akan melaporkan hasilnya kepada Anda.
Rick's Hairstyling
Comparison of Planning Budget to Actual Result
For the Month Ended March 31



Planning
Actual
Variance


Budget
Result

Aktual client-visit
                 1000
              1100

Revenue
 $         180,000
 $         194,200
 $           14,200
F
Expenses:


Wage and salaries
 $         102,000
 $         106,900
 $             4,900
U

Hairstyling supplies
 $             1,500
 $             1,620
 $               120
U

client gratuities
 $             4,100
 $             6,870
 $             2,770
U

Electricity
 $             1,600
 $             1,550
 $                 50
F

Rent
 $           28,500
 $           28,500
0

Liability Insurance
 $             2,800
 $             2,800
0

Employee Health Insurance
 $           21,300
 $           22,600
 $             1,300
U

miscellaneous
 $             1,400
 $             2,130
 $               730
U


Total Expenses
 $         163,200
 $         172,970
 $             9,770
U
Net Operating Income
 $           16,800
 $           21,230
 $             4,430
F







Gambar 9-3  ( Perbandingan antara Planning Budget statis dan hasil aktual)

3.      Cara Kerja Flexible budget
Pendekatan flexible budget mengakali bahwa suatau anggaran dapat disesuaikan untuk  menunjukkan besar cost yang seharusnya terjadi untuk tingkat aktivitas actual tertentu. Untuk  mengilustrasikan cara kerja flexible budget, Victoria menyusun laporan seperti dalam Tampilan 9-4 yang menunjukkan besarnya revenue dan cost yang seharusnya terjadi pada tingkat aktivitas actual tertentu dibulan Maret. Penyusunan laporan tersebut sangat sederhana. Formula cost untuk setiap cost digunakan untuk mengestimasi besarnya cost yang seharusnya terjadi untuk 1.100 kunjungan klien-tingkat aktivitas actual di bulan Maret. Sebagai contoh, dengan rumus cost $1.500q + $0,10q, cost electricity dibulan Maret seharusnya adalah $1,610 (=1.500 = $0,10 x 1.100).
Kita dapat melihat dari flexible budget tersebut bahwa Net operating income di bulan Maret seharusnya $30,510, tetapi ingat bahwa tampilan 9-2 menunjukkan besar Net operating income actual hanya $21.230. hasil tersebut tidak seperti yang kita harapkan.
Rick's Hairstyling
Flexible budget
For the Month Ended March 31




Aktual jumlah kunjungan klien (q)
           1100
Revenue ($180,00q)
 $       198,000
Expenses:


Wage and salaries ($65.000 + $ 37,00q)
 $       105,700


Hairstyling supplies ($1.50q)
 $           1,650


client gratuities ($4,10q)
 $           4,510


Electricity ($1.500 +  $0,10q)
 $           1,610


Rent ($28.500)
 $         28,500


Liability  insurance($ 2.800)
 $           2,800


Employee health insurance($21.300)
 $         21,300


miscellaneous ($1.200  + $0,20q)
 $           1,420



Total Expenses
 $       167,490
Net Operating Income
 $         30,510




Gambar 9-4( Flexible budget berdasarkan aktivitas aktual)

            Untuk menyimpulkan  hal ini, Rick menganggarkan laba sebesar $16.800. Actual profit sedikit lebih tinggi -- $21.230. meskipun demikian, jumlah profit menurut flexible budget di bulan Maret seharusnya lebih tinggi -- $$30.510 apakah penyebab dari perbedaan tersebut?  Rick tentunya ingin meningkatkan faktor positif sekaligus mengurangi faktor negatif. Tetapi faktor-faktor apakah itu?
B.     VARIAN FLEXIBLE BUDGET
1.      Activity Variance
Bagian dari perbedaan antara profit yang dianggarkan dan actual  profit yang merujuk kepada fakta bahwa tingkat aktivitas actual di bulan Maret lebih tinggi dari yang diharapkan. Dalam Gambar 9-5 dapat dilihat bahwa planning budget dari awal periode dibandingkan dengan flexible budget berdasarkan tingkat aktivitas actual selama periode tersebut. Planning budget menunjukkan hal yang seharusnya terjadi pada tingkat aktivitas actual. Dengan demikian perbedaan antara planning budget dan flexible budget  menunjukkan hal yang seharusnya terjadi semata-mata karena tingkat aktivitas actual berbeda dari yang diharapkan.
Contoh Flexible budget  variance (activity variance) dapat dilihat pada table dibawah ini: 

Rick's Hairstyling
Activity variance
For the Month Ended March 31



Planning
Flexible
Activity


Budget
Budget
Variances

Budgeted client-visit (q)
          1000
                 1100

Revenue ($180,00q)
 $     180,000
 $          198,000
 $            18,000
F
Expenses:


Wage and salaries ($65.000 + $ 37,00q)
 $     102,000
 $          105,700
 $              3,700
U

Hairstyling supplies ($1.50q)
 $         1,500
 $              1,650
 $                  150
U

Client gratuities ($4,10q)
 $         4,100
 $              4,510
 $                  410
U

Electricity ($1.500 +  $0,10q)
 $         1,600
 $              1,610
 $                    10
U

Rent ($28.500)
 $       28,500
 $            28,500
 $                     -  
0

Liability  insurance ($ 2.800)
 $         2,800
 $              2,800
 $                     -  
0

Employee health insurance($21.300)
 $       21,300
 $            21,300
 $                     -  
0

Miscellaneous ($1.200  + $0,20q)
 $         1,400
 $              1,420
 $                    20
U


Total Expenses
 $     163,200
 $          167,490
 $              4,290
U
Net Operating Income
 $       16,800
 $            30,510
 $            13,710
F







Gambar 9-5 (Activity variance dari perbandingan antaraPlanning Budget dan flexible budget berdasarkan pada aktivitas aktual)

            Sebagai contoh,anggaran yang didasarkan pada 1.000 kunjungan klien menunjukkan revenue $180.000 (=$180 per kunjungan klien x 1.000 kunjungan klien). Flexible budget yang didasarkan pada 1.100 klien menunjukkan revenue sebesar $198.000 (=$180 per kunjungan klien x 1.100 kunjungan klien). Oleh karena salon mempunyai 100 kunjungan klien lebih banyak dari yang di anggarkan, maka actual revenue seharusnya lebih tinggi dari revenue yang di anggarkan sebesar $18.000 (=$198.000-$180.000). varian tersebut ditunjukkan pada laporan sebagai $ 18.000  F(favorable). Sama halnya anggaran yang didasarkan pada 1.000 kunjungan klien yang menunjukkan electricity cost sebesar $1.600 (=$1.500 + 0,10 per kunjungan klien x 1.000 kunjungan klien). Flekxible budget yang didasarkan pada 1.100 kunjungan klien menunjukkan electricity cost sebesar $1.610(=$1.500 = 0,10 per kunjungan klien x 1.100 kunjungan klien). Oleh karena salonnya mempunyai 100 kunjungan lebih banyak dari yang dianggarkan, maka actual electricity cost seharusnya lebih tinggi dari cost yang dianggarkan sebesar $10(=$1.610 - $1.600)  variance activity untuk electricity ditampilkan pada laporan sebagai $10 U (Unfavorable)
            Oleh karena semua varian dalam laporan tersebut merujuk kepada perbedaan tingkat aktivitas antara anggaran yang direncanakan di awal periode dan tingkat aktivitas actual, maka disebut activity variance. Sebagai contoh activity variance untuk revenue adalah $18.000 F, activity variance untuk electricity adalah $10 U dan seterusnya. Activity  variance  terpenting muncul pada bagian laporan paling bawah, yaitu $13.710 F untuk  Net operating income Variance. Varian tersebut menunjukkan bahwa karena aktivitas lebih tinggi dari yang diharapkan dalam anggaran yang direncanakan, Maka Net operating income seharusnya lebih tinggi $13.710. perlu diperhatikan bahwa  cost akan naik bila ada kelebihan aktivitas, oleh karena itu varian tidak menguntungkan (unfavorable) tidak selamanya mengindikasikan kinerja yang buruk.
            Disisi lain, activity variance menguntungkan untuk Net operating income adalah penting. Pertama mari kita lihat, aktivitas naik 10%, tetapi flexible budget mengindikasikan bahwa Net operating income seharusnya meningkat lebih dari 10%, kenaikan 10% dalam net operating income dari $16.800 dalam anggaran yang direncanakan akan menghasilkan Net operating income sebesar $ 18.480 (=1,1 x $ 16.800); akan tetapi, flexible budget menunjukkan net operating yang lebih tinggi lagi, yaitu $30.510. mengapa? Jawabannya dalah karena fixed cost. Ketika kita membebankan  kenaikan 10% terhadap net operating income yang dianggarkan untuk mengestimasi profit pada tingkat aktivitas yang lebih tinggi, kita mengasumsikan secara implicit bahwa revenue dan costs meningkat 10%, tetapi seharusnya tidak begitu. Perhatikan bahwa ketika tingkat aktivitas meningkat 10%, tiga jenis cost –rent, liability  insurance , dan employee health insurance  -tidak menigkat sama sekali. Costs tersebut adalah murni fixed cost. Sehingga, ketika sales naik sebesar 10 % costs tersebut tidak naik. Hal ini mengakibatkan Net operating income meningkat lebih dari 10%. Pengaruh yang sama akan terjadi dengan mixed cost yang mengandung elemen fixed cost- wage and salaries, electricity dll. Ketika penjualan meningkat 10%, mixed cost ini meningkat kurang dari 10%, mengakibatkan total kenaikan dalam net operating income lebih dari 10%. Oleh karena adanya fixed cost  tersebut, Net operating income tidak berubah meskipun tingkat aktivitasnya berubah. Hal ini merupakan pengaruh leverage. Persentase perubahan dalam Net operating income biasanya lebih besar dari persentase peningkatan aktivitas.

2.      Revenue and Spending Variances
Dalam pembahasan sebelumnya, kita telah menjawab pertanyaan” Apakah dampak perubahan aktivitas terhadap revenue, cost dan profit?” Dalam  Pembahasan ini, kita akan menjawab pertanyaan” Seberapa baik kita akan mengontrol revenue, cost dan profit?”
            Flexibel Budget   didasarkan pada tingkat aktivitas actual dalam pada tampilan 9-4 menunjukkan hal yang seharusnya terjadi pada tingkat aktivitas  actual tertentu. jika kita membandingkan flexible budget tersebut dengan hasil actual, maka kita membandingkan hal yang seharusnya terjadi dengan hal actual yang terjadi. Hal ini disajikan dalam tampilan 9.6
            Dengan memfokuskan revenue terlebih dahulu, flexible budget mengindikasikan bahwa, pada tingkat aktivitas actual tertentu, revenue seharusnya adalah: $ 198.000. Meskipun demikian total  actual revenue  adalah $ 194.200. Akibatnya, revenue menjadi $ 380.000 lebih sedikit dari  yang seharusnya , pada jumlah actual clien visit selama bulan tersebut. perbedaan ini ditandai sebagai revenue variance . Revenue varian adalah total perbedaan revenue yang seharusnya terjadi , pada tingkat aktivitas actual tertentu, selama periode tersebut dan  actual total  revenue. Jika actual revenue melebihi revenue  yang seharusnyaa, maka variance ditandai sebagai menguntungkan. Jika actual revenue kurang dari yang seharusnyaa, maka variance ditandai sebagai tidak menguntungkan. Mengapa actual revenue dapat lebih kecil atau lebih besar dari yang seharusnya pada tingkat aktivitas actual tertentu? pada dasarnya, revenue variance dianggap menguntungkan jika average selling price lebih tinggi dari yang diharapkan dan dianggap tidak menguntungkan jika average  selling price lebih rendah dari yang diharapkan. Hal ini dapat terjadi untuk berbagai alasan termasuk perubahan selling price, perbedaan mix of products sold, perubahan jumlah diskon yang diberikan, buruknya pengendalian akuntansi dan sebaginya.
            Selanjutnya dengan memfokuskan pada cost, flexible budget mengindikasikan bahwa electricity cost seharusnya adalah $1.610 untuk 1.100 kunjungan klien dibulan Maret. Akan tetapi, actual electricity cost adalah $1.550. Oleh karena cost tersebut lebih rendah $60 dari yang kita harapkan untuk tingkat aktivitas actual selama periode tersebut, maka hal ini ditandai sebagai varian menguntungkan, $60 F. Ini adalah contoh dari varian pengeluaran. secara definisi  spending variance  adalah perbedaan antara besar cost yang seharusnya terjadi, pada tingkat aktivitas actual tertentu, dan jumlah actual cost. Jika cost actual lebih besar dari seharusnya , maka variance ditandai sebagai menguntungkan (favorable). Jika actual cost lebih kecil dari seharusnya, maka variance ditandai sebagai tidak menguntungkan (unfavorable). Mengapa suatu cost mempunyai varain menguntungkan atau tidak menguntungkan? Ada beberapa kemungkinan penjelasan termasuk adanya pembayaran untuk input lebih tinggi dari yang seharusnya, penggunaan terlalu banyak input untuk tingkat aktivitas actual tertentu, perubahan teknologi, dan sebagainya.
Gambar 9-6 (revenue and spending variance)
            Perhatikan gambar 9-6 net income variance keseluruhan adalah $9.280 U (unfavorable). Hal ini berarti pada tingkat aktivitas actual tertentu selama periode tersebut, Net operating income lebih rendah $9.280 dari yang seharusnya. ada beberapa alasan untuk hal ini, hal yang paling jelas adalah adanya revenue variance tidak menguntungkan (unfavorable) sebesar$3.800. Selanjutnya adalah adanya varian tidak menguntungkan sebesar $2.360 untuk sambutan klien. dengan kata lai, client gratuities adalah 50% lebih besar dari yang seharusnya menurut flexible budget. Rick ingin varian tersebut diselidiki lebih lanjut. Rick  mungkin akan mengontrol sendiri client gratuitiesnya. Jika tidak, dia mungkin ingin mengetahui siapa yang mengotorisasi  tambahan pengeluaran. Mengapa sedemikian besar? Apakah diberikan lebih dari yang biasanya ? Jika ya, mengapa? Apakah terdapat client gratuities yang terlalu  mewah? Jika ya, mengapa? Perhatikan bahwa varian yang tidak  menguntungkan (unfavorable) tersebut tidak berarti suatu hal yang buruk. Mungkin saja, sebagai contoh, bahwa client gratuities yang mewah tersebut telah menyebabkan kenaikan 10% kunjungan klien.
3.      Laporan Kinerja Kombinasi Antara Activity , Reveneu And Spending Variance
Gambar 9-7 memperlihatkan suatau laporan kinerja yang mengkombinasikan activity variance (dari Gambar 9-5) dengan revenue and spending variance (dari gambar 9-6). Laporan tersebut menyatukan informasi dari kedua gambar sebelumnya dengan cara yang lebih mudah dipahami  mengenai hal yang terjadi selama periode. Format dari laporan tersebut sedikit berbeda dengan  format laporan  sebelumnya dalam hala varian yang muncul diantara jumlah  yang akan dibandingkan dan jumlah setelahnya. sebagai contoh, activity variance muncul diantara jumlah  anggaran yang direncanakan dan flexible budget. Pada  gambar 9-5, activity variance muncul setelah planning budget dan flexible budget.
            Perhatikan dua angka khusus dalam laporan kinerja tersebut- activity variance untuk Net operating income sbesar $13.710 F (favorable) dan revenue and spending variance  keseluruhan untuk Net operating income sebesar $9.280 U (unfavorable). Sangat penting untuk mengulangi apa arti kedua angka tersebut. Activity variance sebesar $13.710 F terjadi karena aktivitas actual (1.100 visit-client) lebih tinggi dari tingkat aktivitas yang dianggarkan (1.000 visit-client). Reveneu and Spending Variance keseluruhan sebesar $9.280 U terjadi karena laba tidak sebesar yang seharusnya untuk tingkat aktivitas actual tertentu selama periode. kedua jenis varian tersebut memiliki banyak arti yang berbeda dan memerlukan penanganan yang berbeda pula. agar menghasilkan activity variance menguntungka (favorable) untuk Net operating income , manajer harus meningkatkan kunjungan klien. Agar menghasilkan revenue variance dan spending variance keseluruhan yang menguntungkan, manajer harus menjaga harga jual, meningkatkan efisiensi operasi, dan mengurangi harga input.
            Laporan kinerja pada gambar 9-7 menyediakan informasi yang jauh lebih berguna untuk manajer dibandingkan perbandingan sederhana atas anggaran dan hasil aktualnya di gamabar 9-3. Pada gambar 9-3, pengaruh dari perubahan aktivitas dicampur bersama-sama dengan pengaruh  dari kinerja pengendalian harga dan pengendalian operasi. laporan kinerja pada gambar 9-7 secara jelas memisahkan pengaruh tersebut, memudahkan manajer untuk melakukan pendekatan yang lebih berfokus dalam  mengevaluasi operasi.
Gambar 9-7 (Laporan kinerja Activity variance, revenue and spending variance)
Untuk memahami cara kerja laporan kinerja tersebut, lihat pada hairstyling supplies dalam laporan kinerja. Dalam anggaran yang direncanakan, cost ini adalah $1.500, dimana actual cost selama periode adalah $ 1.620. Dalam perbandingan antara  anggaran yang direncanakan dengan hasil aktualnya adalah di gamabr 9-3, perbedaan tersebut ditandai sebagai varian tidak menguntungkan (unfavorable) sebesar $120. Gambar 9-3 menggunakan pendekatan  static planning budget dalam membandingkan  cost actual pada suatu tingkat aktivitas terhadap budgeted cost  pada tingkat aktivitas lainnya. Seperti yang kita katakana sebelumnya , hal ini bagaikan membandingkan apel dan jeruk. Varian tersebut sebenarnya merupakan gabungan dari dua pengaruh yang sangat berbeda. Hal ini dijelaskan dalam laporan kinerja gambar 9-7. Perbedaan antara jumlah yang dianggarkan dan hasil aktualnya terdiri atas dua varian yang berbeda , activity variance tidak menguntungkan (unfavorable) sebesar $150 dan varian pengeluaran menguntungkan (favorable) sebesar $30. Activity variance terjadi karena aktivitas lebih besar dari yang direncanakan  sehingga akan menghasilkan total cost yang lebih tinggi  untuk variable cost. Varian pengeluaran yang menguntungkan terjadi karena cost yang dikeluarkan untuk hairstyling supplies lebih sedikit dari yang diharapkan pada tingkat aktivitas actual yang diberikan untuk bulan tersebut.
            Laporan kinerja flexible budget di Gambar 9-7 menyediaka penilaian kerja yang lebih valid daripada perbandingan sederhana antara static planning budget cost dan actual cost karena actual cost tersebut dibandingkan dengan cost yang seharusnya terjadi pada tingkat aktivitas actual. Dengan kata lain, apel dibandingkan dengan apel. ketika hal ini dilakukan, kita melihat bahwa spending variance untuk hairstyling supplies adalah  $30  F (favorable)  bukan $120 U (unfavorable) sebagaimana terdapat dalam laporan kinerja static planning budget awal (lihat Gambar 9-3). Dalam beberapa kasus, seperti hairstyling supplies di laporan Rick, static planning budget variance yang tidak menguntungkan dapat diubah menjadi spending and revenue variance yang menguntungkan ketika peningkatan diperhitungkan secara tepat.
4.      Laporan Kinerja Dalam Organisasi Nirlaba
Pada dasarnya, laporan kinerja dalam organisasi nirlaba sama dengan laporan kinerja seperti yang telah dibahas sebelumnya. Organisasi nirlaba biasanya menerima jumlah dana yang besar dari suatu sumber yang bukan merupakan  penjualan. Sebagai contoh,  universitas menerima dananya dari penjualan (uang sekolah yang dibebankan ke mahasiswa), dari dana yayasan dan donasi, dan dalam hal universitas negeri dana dari pemerintah. Ini berarti bahwa, seperti halnya  cost, revenue dalam pemerintahan dan organisasi nirlaba terdiri atas elemen tetap dan variable. sebagai contoh, revenue, di Seattle Opera Company selama setahun terakhir terdiri atas  hibah dan donasi sebesar  $ 12.719.000 dan penjualan tiket sebesar $8.125.000 (harga tikrt sekitar $ 75,35 per tiket terjual). Akibatnya, rumus revenue untuk organisasi tersebut dapat ditulis sebagai berikut:
                        Revenue = $ 12.719.000 + $ 75,35 q
Diman q adalah jumlah tiket yang terjual. Dalam hal lain, laporan kinerja untukSeattle Opera dan laporan organisasi nirlaba lainnya akan sama dengan kinerja di gambar 9-7

5.      Laporan Kinerja Dalam Pusat Biaya (Performance Report In Cost Center)
Laporan Kinerja sering kali dibuat untuk organisasi yang tidak mempunyai sumber pendapatan dari luar. Secara khusus, dalam organisasi besar, laporan kinerja dibuat di setiap departemen dari luar. Secara Khusus, dalam organisasi besar, laporan kinerja dibuat disetiap departemen termasuk departemen yang tidak menjual apa pun ke pihak luar. Sebagai contoh, laporan kinerja yang biasanya dibuat oleh departemen produksi di perusahaan manufaktur. Laporan tersebut seharusnya dibuat menggunakan prinsip yang sama dengan yang telah kita diskusikan dan harus terlihat seperti laporan kinerja di Tampilan 9-7 dengan pengecualian bahwa revenue dan net income operation, tidak akan muncul dalam laporan, Oleh karena Manajer didepartemen tersebut  bertanggung jawab untuk cost, bukan revenue, maka departemen ini sering disebut cost center.
C.    FLEXIBLE BUDGET WITH MULTIPLE  COST DRIVERS

Di Rick’s Hairsyling,  kita hanya mengasumsikan bahwa  hanya ada satu cost drivers yaitu jumlah kunjungan klien (client-visit). Akan tetapi, dalam bab perhitungan biaya kita mengetahui bahwa ada lebih dari satu cost drivers yang mungkin diperlukan untuk menjelaskan semua biaya yang ada dalam suatu organisasi. Sebagai contoh, sejumlah biaya di Rick’s Hairstyling mungkin bergantung pada jumlah jam salon beroperasi, bukan jumlah kunjungan klien. Secara khusus, hampir semua karyawan Rick dibayar dengan gaji, tetapi beberapa diantara mereka dibayar berdasarkan jam kerja. Tidak ada seorang karyawan yang dibayar berdasarkan jumlah pelanggan yang dilayaninya. Akibatnya, formula cost  untuk  wage and salaries akan lebih akurat jika kita menyatakan berdasarkan jam operasi daripada jumlah kunjungan klien. Electricity cost bahkan lebih kompleks. sebagian cost adalah tetap—gas untuk pemanas harus berada pada tingkat minimum pada malam hari ketika salon tutup. Beberapa dari biaya bergantung pada jumlah kunjungan klien yang dilayani. Beberapa cots bergantung pada jumlah jam salon beroperasi— cost of lighting disalon dan pemanas ruangan. Akibatnya rumus electricity cost akan lebi akurat jika dihitung dengan jumlah kunjungan klien dan jam beroperasi daripada hanya berdasarkan jumlah kunjungan klien.
Gambar 9-8 Flexible budget with multiple cost drivers
Dalam fleksible budger tersebut, disajikan dua pemicu cost-kunjungan klien dan jam beroperasi dimana q1 mengacu pada jumlah kunjungan klien dan q2 mengacu pada jam operasi . Sebagai contoh, wage and salaries bergantung pada jam operasi  cost formulanya adalah $65.000 + $220q2. Oleh karena salon beroperasi actual sebanyak 185 jam, maka fleksible budget  untuk wage and salaries adalah $ 105.700 (=$65.000 + $220 x 185). Electricity cost bergantung  pada kedua variable: yaitu kujungan klien dan jam operasi sehingga cost formula nya menjadi $390 + $0,10 q1 + $6,00 q2. Oleh karena jumlah kunjungan klien actual adalah 1.100 dan salon beroperasi actual sebanyak 185 jam, maka jumlah fleksible budget untuk electricity adalah $1.610 (=$390 + $0,10 x 1.100 x $6,00 x 185).
Fleksible Budget yang direvisi berdasarkan kedua variable, yaitu kunjungan klien dan jam  beroperasi, dapat digunakan seperti halnya kita menggunakan flexible budget sebelumya yang hanay berdasarkan kunjungan klien untuk menghitung activity variance pada Gambar 9-5 dan revenue and spending variance dig amber 9-6 dan laporan kinerja di gambar 9-7
Perbedaanya adalah bahwa cost formula yang didasarkan pada lebih dari satu pemicu biaya lebih akurat daripada rumus biaya yang hanya didasarkan pada satu pemicu biaya, variannya juga akan lebih akurat.
D.    BEBERAPA KESALAHAN UMUM
Kesalahan paling umum  dalam membuat laporan kinerja adalah mengasumsikan secara implicit bahwa semua fixed cost akan selalu tetap atau mengasumsikan secara implicit bahwa semua variable cost akan selalu berubah. Asumsi yang salah tersebut menyababkan ketidak akuratan dan varian yang salah.
Gambar 9-9 kesalahan analisi dalam membandingkan jumlah anggaran terhadap jumlah actual (mengasumsikan semua  pos laporan laba rugi adalah tetap)
Gambar 9-10
kesalahan analisis yang mengasumsikan semua  pos anggaran adalah variable

Ketika  kita mengasumsikan bahwa fixed cost selalu bersifat tetap, maka kesalahan ini terjadi ketika static budget dibandingkan dengan actual cost tanpa disesuaikan untuk tingkat actual aktivitas. Perbandingan tersebut terdapat pada Gambar 9-3. Untuk lebih mudahnya perbandingan revenue budget dan hasil actual diulang pada Gambar 9-9. Pada gambar 9-9, perhatikan bahwa budget cost untuk hairstyling supplies sebesar $ 1.500 langsung dibandingkan dengan biaya actual sebesar $1.620, menghasilkan varian tidak menguntungkan  (unfavorable) sebesar $120. Akan tetapi, perbandingan ini hanya masuk akal  jika cost of haistyling  supplies adalah tetap. Jika biaya perlengkapan salon bukan fixed cost (dan memang demikian), maka seseorang akan mengharapkan cost naik karena adanya peningkatan aktivitas anggaran. Membandingkan static  planning budget cost dengan actual cost hanya masuk akal ketika jika cost nya tetap. Jika costnya tidak tetap, maka perlu dibuat penyesuaian untuk setiap perubahan aktivitas yang terjadi selama periode.
Kesalahan umum lainnya ketika membandingkan anggaran dengan hasil aktualnya adalah dengan mengasumsikan bahwa variable cost akan selalu variable. Laporan yang menghasilkan kesalahan tersebut muncul dalam Gambar 9-10. Varian dalam Laporan ini dihitung dengan membandingkan hasil actual terhadap jumlah angka dikolom kedua dimanas semua pos anggaran telah dinaikkan sebesar 10%-- persentase dimana terjadi peningkatan aktivitas. Hal ini merupakan penyesuaian yang dibuat dengan sangat valid jika suatu pos benar-benar valid jika terdapat suatu pos mengandung elemen tetap. Sebagai contoh, rent adalah tetap, jika salon melayani pelanggan lebih dari 10% dalam bulan tersebut, apakah anda mengharapkan biaya sewa akan naik? jawabannya adalah tidak. Biasanya rent adalah tetap dan tidak bergantung dengan volume bisnis. Dengan demikian, jumlah sebesar $31,350 yang ditunjukkan kolom kedu adalah salah, yang akan menghasilkan kesalahan varian menguntungkan (favorable) sebesar $ 2,850. Faktanya,  actual rent yang dibayar sama dengan sewa yang dianggarkan sehingga tidak akan ada varian pada suatu laporan tersebut.